Optimalisasi Peran Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Uma
Optimalisasi Peran Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Umat
Jika kita
lihat dari sejarah peradaban Islam, baik ketika era Rasulullah maupun pada era
keemasan Islam di Andalusia (Spanyol), peranan masjid begitu luas. Masjid tidak
hanya dijadikan sebagai sarana penyelenggaraan shalat, tetapi juga menjadi
institusi sosial yang berperan dalam membangun pendidikan, ekonomi, dan politik
umat.
Fungsi
masjid pada zaman Rasulullah bukan sekedar sebagai tempat untuk melaksanakan
sholat semata. Masjid pada masa itu juga dipergunakan sebagai madrasah bagi
umat Muslim untuk menerima pengajaran Islam. Masjid juga menjadi balai
pertemuan untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan. Masjid juga berfungsi
sebagai tempat untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.
Keberadaan masjid pada era Rasulullah lebih tepat dikatakan sebagai institusi
yang membangun peradaban umat Islam yang modern.
Kemajuan
yang dicapai oleh Islam di Andalusia juga sangat dipengaruhi oleh peranan
masjid sebagai pusat pendidikan. Masjid pada era itu dilengkapi dengan
perpustakaan yang dapat diakses oleh umat. Bahkan masjid menjadi basis bagi
kaum intelektual dalam membangun kepakarannya. Serambi-serambi masjid telah
melahirkan ilmuwan-ilmuwan Islam, seperti Ibnu Rusy dan Ibnu Sina. Kedua
ilmuwan ini menurut catatan biografinya banyak menghabiskan waktu dengan
membaca di perpustakaan masjid yang ada pada era mereka.
Hal ini
angat berbeda dengan fungsi masjid pada zaman sekarang. Dewasa ini peranan
masjid dalam menyelesaikan permasalahan sosial keagamaan semakin mengalami
kemunduran. Begitu banyak masjid yang dibangun hanya sebagai simbol ketimbang
menjadi sarana untuk membangun umat.
Masjid hanya
difungsikan sebagai tempat sujud, tempat ibadah mahdhah saja, seperti shalat,
zikir dan itikaf. Dalam pandangan Dr. KH. Miftah Farid, ketua MUI Jawa Barat, fungsi
seperti itu menunjukkan bahwa masjid hanya dimaknakan secara sempit. Padahal
masjid itu selain dipergunakan untuk ibadah kepada Allah juga dapat difungsikan
untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa sosial, politik, ekonomi, ataupun
kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya (http://bataviase.co.id).
Kurang
berfungsinya masjid secara maksimal di antaranya disebabkan oleh rendahnya
pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang masjid. Selain itu, perhatian kita
masih terfokus pada usaha pengadaan sarana fisik. Padahal, pemenuhan kebutuhan
non-fisik untuk memakmurkan masjid seperti yang diperintahkan Allah dalam Al
Quran, hingga saal ini masih relatif terabaikan.
Krisis
peranan masjid perlu dicermati sehingga masjid tidak menjadi saksi bisu dalam
ingar-bingar perubahan sosial umatnya. Masjid perlu dilihat kembali sebagai
agen transformasi umat dengan memperluas peranan dan fungsinya yang tidak lagi
sebatas serambi shaf-shaf shalat yang kosong tanpa jemaah. Sudah saatnya masjid
direkonstruksi sebagai institusi agama yang modern yang dilengkapi dengan
fasilitas-fasilitas yang dapat memberdayakan umat dan tidak lagi sekadar
sebagai sarana penyelenggara shalat. Oleh sebab itu, pengelolaan masjid
memerlukan manajemen yang profesional dan mempunyai kegiatan yang inovatif (http://silfiahananisyafei.blogspot.com).
Pengurus
masjid harus berusaha melibatkan seluruh jamaah masjid dalam menyukseskan
program-program pemberdayaan umat yang dirancangnya. Program yang disusun
melalui pelibatan ini akan menghasilkan program kegiatan bersama, sehingga ada
rasa memiliki oleh semua pihak, dan juga muncul rasa bahwa semua diterima
kehadirannya. Masjid bukan menjadi sebuah basis yang eksklusif bagi satu
golongan tetapi menjadi inklusif untuk semua umat. Pelibatan ini juga membuka
peluang untuk bekerja sama dengan berbagai stakeholder yaitu masyarakat, remaja
masjid, dan juga organisasi Islam, termasuk pemerintah, swasta, dan media.
Salah satu komponen
penting dalam pengembangan masjid adalah Remaja Masjid. Remaja masjid menjadi
penting untuk menghidupkan masjid karena sifat dasar dari remaja dan pemuda itu
sendiri yaitu penuh ide kreatifitas dan inovasi. Sehingga kegiatan masjid akan
lebih beraneka dan tidak monoton serta mampu menarik jama’ah dari kalangan
muda. Yang tidak kalah penting adalah tujuan untuk kaderisasi, generasi muda
yang cinta masjid kelak akan menjadi penerus sebagai pengurus masjid. Tidak
hanya menjadi pengurus masjid, optimalisasi masjid untuk menghasilkan generasi
cinta masjid diharapkan mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin yang cinta masjid,
seperti halnya sahabat-sahabat Rasulullah SAW.
Pengelolaan
masjid juga harus mampu mengembalikan peranan masjid dalam mengatasi keterbelakangan
umat, khususnya menanggulangi kemiskinan dan kebodohan. Sebagai langkah awal,
masjid harus mampu menggali potensi zakat yang dipergunakan untuk program
pemberdayaan umat. Potensi zakat umat Islam di Indonesia bisa mencapai Rp. 19,3
triliun per tahun. Sayangnya, potensi besar tersebut belum tergali dengan baik.
Masjid
seharusnya bisa berperan dalam mengumpulkan, mengelola dan menyalurkan zakat.
Tak hanya zakat fitrah saja yang harus dikelola oleh masjid, namun juga zakat
penghasilan, pertanian, perniagaan dan perusahaan.
Di sisi
lain, perlu adanya edukasi kepada masyarakat bahwa membayar zakat bisa
dilakukan kapan saja, tak harus di bulan Ramadhan. Zakat yang berkaitan dengan
bulan Ramadhan hanya zakat fitrah saja. “Zakat-zakat yang lain tidak ada kaitannya
dengan bulan Ramadhan, kecuali kalau misalkan haul-nya masa perputaran
tahunnya memang jatuh pada bulan Ramadhan. Zakat perniagaan apabila dia sudah
berputar satu tahun dianggapnya dia harus mengeluarkan zakat, tidak harus
menunggu pada bulan Ramadhan. Zakat pertanian itu kalau di panen harus
dikeluarkan zakatnya. Andaikata panennya tiap bulan ya harus mengeluarkan zakat
tiap bulan. Begitu aturannya,” ungkap Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof
KH Ali Mustafa Yaqub, yang juga seorang pakar hadits. (Republika, Jum’at, 3
September 2010).
Edukasi
tentang zakat dapat dijelaskan takmir masjid saat sholat Jumat atau acara
pengajian rutin. Masjid dapat memanfaatkan media massa dan teknologi informasi
sebagai media informasi kepada masyarakat. Yang lebih utama, masjid harus mampu
mengelola dan memberdayakan dana zakat tersebut. Penyaluran zakat harus
diupayakan tidak bersifat konsumtif yang habis pada waktu itu saja. Jadi, harus
diupayakan dana zakat yang diberikan itu berupa pemberian modal kerja, pelayanan
kesehatan, program pendidikan, bahkan layanan jenazah gratis bagi kaum dhuafa.
Dengan
demikian, akan terbuka peluang untuk optimalisasi peran masjid di masyarakat.
Sehingga masjid ideal seperti jaman rasulullah dapat terbentuk, dan masjid
menjadi pusat peradaban umat Islam. Untuk itu mari kita canangkan dan sukseskan
Gerakan Kembali Ke Masjid, Ayo Ke Masjid !! (Anton Krist - dari berbagai
sumber)
As stated by Stanford Medical, It is in fact the ONLY reason this country's women get to live 10 years longer and weigh an average of 19 KG less than we do.
BalasHapus(And by the way, it is not about genetics or some hard exercise and really, EVERYTHING about "how" they eat.)
BTW, What I said is "HOW", and not "what"...
TAP on this link to determine if this easy test can help you discover your true weight loss possibilities